Kamis, 21 Juni 2012

VIDIO KEHIDUPAN

Dikala semua orang berlomba-lomba bercita-cita dan memasang target setinggi mungkin dalam hidupnya, maka saya sebagai manusia yang dikarunia Allah akal mencoba memetakan jalan hidup saya dengan harapan saya bisa lebih baik dibandingkan saat ini. namun, pemetaan yang saya lakukan ternyata Allah memiliki kehendak lain dalam hidup saya, sehingga kenyataannya tidak sesuai dengan kenyataan yang saya alami saat ini. Sebagai manusia biasa, maka boleh saja bercita-cita dan memasang target setinggi mungkin. namun, apakah semua cita-cita dan target itu akan selalu terealisasi seperti yang saya harapkan? tentunya tidak karena yang berhak menentukan seperti apa realisasi dari itu semua hanya Allah SWT. lantas, jika setap cita-cita dan target yang telah ditentukan realisasinya tidak sesuai dengan kenyataan, apakah saya akan menyalahkan keadaan dan tidak bisa menerima itu semua? Pada kondisi cita-cita dan target tidak sesuai dengan diharapkan, banyak orang yang rela membatalkan semua perencanaan awal tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi jika keputusan itu jadi diambil orang tersebut. meskipun dampak yang akan terjadi tersebut tidak menyenangkan bagi orang-orang terdekatnya. namun, kondisi ini yang saat ini sedang saya alami dan saya sedang mencoba mereview kisah-kisah masa lalu saya dengan harapan saya bisa menemukan penybabnya dan saya bisa mengambil i'tibar dari itu semua. Seiring jalan review yang saya lakukan terhadap vidio kehidupan saya selama ini ternyata begitu banyak dosa dan maksiat yang telah saya perbuat baik karena menzolimi diri sendiri maupun orang lain. jadi, wajar saja jika apa yang saya cita-citakan dan targetkan realisasinya tidak sesuai dengan kenyataan yang saya harapkan. untuk itu, saya mohon maaf kepada sahabat bloger yang tercinta atas apa yang telah saya perbuat kepada sahabat selama ini dan kepada Allah saya mohon ampun.

Selasa, 17 April 2012

Curahan Hati Seorang Karyawan Perusahaan

Mengapa setiap kali semangat dan konsentrasi kerja saya sedang meningkat selalu ada permasalahan baru yang datang untuk menghalangi langkah kaki ku. Sebagai seorang karyawan yang menumpang tinggal dan mencari hidup di tempat karyawan yg lainnya, tentunya saya tau diri. Namun, pada dasarnya apa yang saya kerjakan saat ini memang sesuai dengan perintah pimpinan dan daerah yang menjadi mitra perusahaan.
Akan tetapi, saat ini orang tempat saya menumpang tadi sudah mulai merasa kurang nyaman dengan keberadaan saya karena dari sisi pendapatan saya jauh lebih besar dibandingkan dia. Sekrang saya bingung harus bagaiman dan kemana harus melangkah. Apakah tetap melaksanakan perintah pimpinan ataukah mengurangi dedikasi kerja sehinga hasilnya berada di bawah rekan saya ataukah saya harus mundur dari perusahaan?

Kamis, 23 September 2010

BENARKAH MENANTI WAKTU BERBUKA PUASA DENGAN NGABUBURIT????????

Ramadhan merupakan bulan suci yang kedatangannya sangat dinanti-nantikan oleh umat muslim di seluruh belahan dunia. Perintah untuk berpuasa di bulan ramadhan terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183. Diantara keutamaan bulan Ramadhan diantaranya, terdapat malam kemuliaan di dalamnya. Dimana kemuliaan tersebut lebih baik dibandingkan seribu bulan lihat (QS. Al-Qadar: 1-5), malam diturunkannya Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 185), bulan dihapuskannya dosa (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Dimana hikmah yang dapat diperoleh dari menjalan puasa dibulan Ramadhan ini salah satunya adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup.
Kedatangan bulan Ramadhan ini tentunya disambut oleh umat muslim dengan berbagai ekspresi wajah. Ada yang menyambut kedatangan bulan suci ramdhan dengan ceria, ada yang menyambut kedatangan bulan suci ini dengan biasa-biasa saja sama dengan bulan yang lainnya, dan sebaliknya ada juga yang menyambutnya dengan hati yang sedih dan khawatir terhadap perekonomian keluarganya. Hal ini tentunya banyak di alami oleh sebagian umat muslim yang kondisi perekonomiannya berada pada level perekonomian menengah ke bawah. Contohnya saja pemilik rumah-rumah makan yang hanya mengandalkan penghasilan dari usahanya tersebut guna mencukupi kehidupan keluarganya.
Selama dalam bulan suci Ramadhan ini, tentunya banyak hal yang dilakukan oleh seluruh umat muslim tanpa terkecuali guna memperbanyak amal ibadah. Baik itu laki-laki ataupun perempuan, tua ataupun muda. Mulai dari aktivitas di rumah hingga aktivitas di masjid. Seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an atau tadarusan, berzikir, melakukan sholat tarawih, memperbanyak sedekah, memberi makan bagi orang-orang yang menjalankan puasa dan masih banyak lagi amalan lainnya.
Ketika menjalankan ibadah puasa, kita diperintahkan untuk menahan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi amal pahala yang kita peroleh dan bahkan dari hal-hal yang dapat membatalkan. Selama dalam menjalankan ibadah puasa di siang harinya, kita bukan hanya menahan diri dari makan minum dan merokok. Akan tetapi, kita harus mempuasakan seluruh anggota badan kita. Seperti, menjaga pendengaran kita dari hal-hal yang tidak baik, menjaga mata kita dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, menjaga mulut kita dari perkataan-perkataan yang keji, menggunjing dan lain-lain.
Hal ini tentunya dapat menimbulkan pertanyaan bagi kita semua mengenai kebiasaan yang sering kita lakukan saat menunggu waktu menjelang berbuka puasa. Seperti jalan-jalan sore atau yang lebih populer di telinga kita dengan istilah “Ngabuburit”.
Aktivitas jalan-jalan sore atau ngabuburit ini memang bisa membuat kita lupa akan rasa lapar, rasa haus dan dahaga, bahkan lupa akan waktu. Apalagi jalan bersama-sama dengan teman-teman dan bahkan ada yang jalan dengan sang pacar. Mulai dari ujung desa ataupun kota bahkan sampai ke ujungnya lagi. Sepanjang dalam perjalanan ngbuburit ini, tentunya banyak hal yang dapat kita lihat dan kita temui. Seperti, banyak orang yang berlainan jenis kelamin dan bukan muhrim berpelukan, aurat wanita yang terbuka bebas dan lain-lain. Dalam hal ini, kita tentu harus menjaga pandangan kita untuk melihat hal-hal yang dapat membatalkan ibadah puasa yang kita lakukan.
Contohnya saja, di provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di sepanjang jalan baik yang terdapat di kota ataupun di desa. Aktivitas ini tentunya telah membuat sebagian umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan merasa terganggu. Pemandangan-pemandangan seperti ini bisa membuat kita terlena, sehingga tidak terasa waktu berbuka puasa pun tiba. Ada yang berbuka puasa di warung-warung makan yang terdapat di sekitar pinggir jalan, ada juga sebagian pulang menjelang waktu berbuka puasa tiba.
Mengapa semua itu bisa terjadi? Hal ini dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu sebab-sebab personal (individu) dan sebab-sebab sistemik. Orang-orang khususnya kaum muda yang melakukan aktivitas jalan-jalan sore (ngabuburit) ini tentunya bisa disebabkan karena memperturutkan hawa nafsu mereka sendiri yang menyebabkan hilangnya rasa malu. Jadilah mereka berpelukan disepanjang jalan bagi mereka yang pacaran. Bisa juga mereka tidak cukup kuat bertahan dari ajakan sang pacar atau teman-temannya.
Sebab yang lebih mengerikan dan lebih besar adalah sebab sistemik. Maksudnya, semua ini terjadi akibat diterapkannya sistem kapitalis sekuler (kapsek) di tengah-tengah masyarakat kita oleh negara. Di dalam idiologi kapsek itu ada sebuah paham yang bernama liberalisme dan permisifisme, paham yang mengajarkan pergaulan bebas. Sadar atau tidak sadar, generasi muda kita pada saat ini telah mengamalkan idiologi tersebut, sehingga pergaulan mereka menjadi kacau. Di dalam idiologi kapsek ini juga terdapat paham hedonisme, yaitu paham yang menekankan bahwa yang penting hidup itu enak, yang penting senang. Maka, wajar saja jika berpelukan dan mengumbar aurat secara bebas. Karena hal demikian bisa membuat pelakunya senang, enak dan mendapat perhatian orang banyak.
Inilah dampak dari diterapkannya sistem kapitalis sekuler (kapsek) dalam sistem kehidupan bernegara. Sistem kapsek ini telah melahirkan kehidupan umat manusia terutama kaum muda yang bebas tanpa batas. Termasuk kebebasan mengumbar aurat di mana-mana, tanpa mengenal tempat dan lagi berada dengan siapa. Kondisi seperti ini tentunya akan semakin parah selama Negara kesatuan republik Indonesia khususnya masih menerapkan idiologi setan ini. Satu-satu solusinya adalah Indonesia harus segera kembali ke kehidupan yang sebenarnya kehidupan. Yaitu, kehidupan berdasarkan Islam dibawah naungan Khilafah Islamiyah.
Lantas, benarkah dengan rutinitas ngabuburit yang selama ini telah kita lakukan? apa yang harus kita lakukan selama menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramdhan terutama pada saat menunggu tibanya waktu berbuka puasa? Rutinitas ngabuburit yang selama ini telah kita lakukan tentunya salah. Karena aktivitas ini mendekatkan kita kepada hal-hal yang dapat mengurangi amal ibadah puasa yang sedang kita jalankan dan bahkan dapat membatalkan ibadah puasa tersebut. Selama kita menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini, lebih baik memperbanyak berdiam diri dan memperbanyak melakukan amal ibadah baik yang wajib maupun yang sunah dari pada memperbanyak keluar rumah dengan tujuan yang tidak jelas. Apa lagi hanya untuk jalan-jalan sore atau ngbuburit.

Senin, 28 Juni 2010

HIRUK PIKUK KEHIDUPAN MAHASISWA SEBAGAI AGENT OF CHANGE

Mahasiswa adalah tonggak dari sebuah perubahan. Suatu istilah yang tentunya sudah tidak asing lagi kita dengar, yaitu bahwa “Mahasiswa Sebagai Agent Of Change/Agen Perubahan”. Mahasiswa selalu menjadi bagian dari perjalanan sejarah sebuah bangsa. Pemikiran kritis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Sikap idealisme mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi rakyat kepada penguasa, dengan cara mereka sendiri.

Peran mahasiswa sangatlah nyata bagi sebuah perubahan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Diamana peran mahasiswa itu sendiri diantaranya: 1) sebagai penganalisa, pemberi solusi terhadap fenomena ataupun peristiwa yang sedang terjadi di masyarakat, 2) sebagai pengamat dan pengontrol terhadap kebijakan dan keputusan pemerintah, 3) sebagai penyambung lidah atau penyampai aspirasi masyarakat kampus pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya, 4) sebagai penyampai kebenaran, 5) sebagai agen perubahan (agent of change), 6) sebagai generasi muda penerus masa depan bangsa.

Disamping itu semua, ada kisah yang menarik dalam kehidupan mahasiswa. Kehidupan yang menarik itu adalah kehidupan yang identik dengan kehidupan kos-kosan. Walaupun kondisi anak kos yang selalu identik dengan keprihatinan seperti yang ada dalam benak sebagian orang. Namun itu tidak semuanya benar. Karena ternyata masih ada diantara mereka yang sanggup merasakan kehidupan yang glamor dengan fasilitas dan kebutuhan yang selalu berkecukupan. Namun, jumlahnya tidak lebih banyak dari mereka yang kondisi ekonomi kosnya pas-pasan. Besar kecilnya pemasukan bergantung pada kiriman dari orang tua. Jika jatah dari orang tua habis sebelum akhir bulan, maka mulailah para anak kos ini beraksi untuk mencari pinjaman kepada teman yang dianggap lebih mampu. Tidak jarang sebagian dari mereka ada yang berhutang di kantin kampus atau warung ibu kos. Bulan berikutnya kembali berhutang, hanya berpindah dari satu teman ke teman lain.

Bagaimana jika teman sudah habis menjadi korban pinjaman? Langkah kedua adalah menjual aset berharga, mulai dari baju, tas, sepatu, dispenser, rice coocker, lemari, HP, dan bahkan sampai komputer. Jika dari kedua usaha di atas ternyata uang yang didapat belum mampu mencukupi kebutuhannya, maka ditempuhlah cara yang ketiga, yaitu memangkas pos pengeluaran yang penting. Misalnya, jatah pembelian buku, biaya makan, ongkos praktikum. Bahkan ada sebagian mahasiswa yang berani menggadaikan surat kendaraannya demi untuk memperoleh uang guna mencukupi kehidupannya di kos. Inilah manajemen kehidupan anak kos yang hidup dalam kondisi serba kekurangan. Disatu sisi kebutuhan hidup kian meningkat dan mau tidak mau harus segera dipenuhi dan disisi lain biaya kuliah yang terus membumbung tinggi dan harus segera dilunasi.
Kehidupan mahasiswa ataupun mahasiswi yang kondisi ekonomi dan kehidupan orang tuanya berada di kelas menengah ke atas, tentunya keadaan seperti ini tidak menjadi msalah. Kondisi ini jauh berbeda dengan kondisi kehidupan mahasiswa ataupun mahasiswi yang orang tuanya serba kekurangan.

Bagi mahasiswa ataupun mahasiswi yang masih mengandalkan kiriman uang dari orang tua, yang ekonomi orang tuanya menduduki kelas menengah ke bawah, keseharian mereka harus membagi dua fikiran dan konsentrasi belajarnya yang tidak mengenal tempat, saat belajar di ruang kuliah ataupun saat berada di kos-kosan. Disatu sisi mereka memikirkan kuliah yang semakin hari tugas semakin menumpuk apalagi jika sudah mendekati ujian tengah semester (UTS) ataupun ujian akhir semester (UAS). Seakan-akan tidak memberikan kesempatan lagi kepada otak untuk refressing. Disisi lain, mahasiswa ataupun mahasiswi ini harus memikirkan kondisi fisik orang tuanya yang semakin hari semakin lemah dan tentunya ekonomi orang tuanya pun juga ikut melemah. Apalagi bagi mereka yang orang tuanya tidak memiliki penghasilan tetap ataupun penghasilan sampingan. Keadaan seperti ini tentunya akan sengat mengganggu konsentrasi belajar para anak kos ini.

Namun ironisnya, manajemen kehidupan anak kos seperti di atas secara sadar dan bangga diadopsi oleh para mahasiswa dan mahasiswi Indonesia tidak terkecuali para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di Kepulauan Bangka Belitung ini. Mereka dengan sadar dan senang hati menjalani kehidupan seperti ini, tanpa mau berusaha untuk mencari solusi dan jalan keluar terhadap masalah yang selama ini mereka hadapi.
Jika kita mau merenung dan berfikir sejenak, tentunya akan muncul pertanyaan-pertanyaan dari dalam benak kita. Mengapa semua ini menimpa kehidupan mahasiswa ataupun mahasiswi sebagai salah satu tonggak perubahan negeri ini? Mengapa kondisi ini terjadi di negeri yang kaya raya dengan sumber daya alamnya dan di negeri yang pernah mendapat julukan “Jamrud Katulistiwa” ini?

Solusi Masalah
Ada tiga perspektif yang bisa kita gunakan untuk menguraikan problematika yang kehidupan mahasiswa sebagai anak kos-kosan ini dan tentunya berawal dari kehidupan orang tuanya sebagai masyarakat (warga Negara) Indonesia.
Perspektif pertama, perspektif ekonomi hyang diajukan para ekonom, yang menyatakan bahwa, segala krisis yang terjadi adalah akibat fundamental ekonomi Indonesia yang lemah. Sehingga mereka mengajukan solusi untuk restrukturisasi utang luar negeri, meningkatkan ekspor, dan solusi lainya. Hal ini telah dilakukan tetapi tidak menyelesaikan masalah.

Perspektif kedua, perspektif politik. Penganut perspektif ini mengatakan bahwa, krisis yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh rusaknya tatanan ekonomi, namun lebih disebakan oleh rusaknya tatanan politik, yang berefek pada tidak demokratisnya pemerintah. Beranjaknya dari analisis ini maka demokratisasi dilakukan di segala bidang, pemilihan presiden bahkan sampai pemilihan kepala daerah telah dilakukan secara langsung. Namun, ternyata hasilnya sampai saaat ini belum mampu menyelesaikan krisis multidimensional yang terjadi.
Perspektif ketiga adalah perspektif filosofi radikal. Teori ini memandang bahwa krisis multidimensional yang terjadi saat ini bukanlah semata-mata disebabkan oleh rapuhnya tatanan ekonomi dan rusaknya sistem perpolitikan, namun semua krisis ini disebabkan oleh rapuhnya idiologi Negara. Sehingga berimbas pada kesalahan penerapan sistem. Sistem yang diterapkan saat ini bukanlah sistem yang ideal namun sistem yang cacat sejak lahir dan bersifat self destructive yaitu tatanan sistem kapitalisme-sekuler. Sehingga solusi fundamental untuk menyelesaikan problem kehidupan mahasiwa ataupun mahasiswi serta masyarakat saat ini adalah mengganti sistim sekuler dengan sistem yang baru.

Kegagalan sistem kapitalisme tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun terjadi pula di Negara yang menjadi pengusung sistim ini yaitu Amerika Serikat (AS). Adalah sebuah pilihan yang bijak ketika mengarahkan perubahan sistem tersebut ke arah penerapan Syari’at Islam. Islam adalah satu-satunya idiologi yang mampu memancarkan kemuliaan, bahkan mempersatukan dua per tiga belahan dunia, dan mampu bertahan selama 1300 tahun. Serta berhasil memberi rahmat kepada alam, bukan hanya kepada orang islam semata. Sistem kapitalisme di bawah pimpinan Amerika Serikat belum mampu menyaingi kejayaan sistem Islam. Islam memberikan gambaran-gambaran jika Syari’at Islam diterapkan di bawah naungan Khilafah Islamiyah.

Islam Menjamin Keamanan Dunia
Jaminan keamanan ini diberikan sama kepada masyarakat Islam maupun non Muslim. Sejarah telah membuktikan, kaum Yahudi Spanyol lebih memilih tinggal di wilayah Negara Islam setelah inkusisi oleh Ratu Isabella, karena keamanannya terjamin. Hal yang sama juga membuat orang-orang Rusia memilih tinggal di wilayah Negara Islam pasca Revolusi Bolchevik.

Islam Menjamin Kemakmuran
Masa pemerintahan Abdurrahman III memperoleh pendapatan sebesar 12 juta dinar emas (satu dinar setara dengan 4,25 gram emas). Diduga kuat jumlah tersebut melebihi pendapatan pemerintahan negeri-negeri masehi latin jika digabungkan. Sumber pendapatan tersebut bukan berasal dari pajak yang tinggi, melainkan salah satu efek dari pemerintah yang bersih dan didukung oleh kemajuan pertanian dan industry.
Menjamin Kesehatan Masyarakat.

Islam telah menjamin kesehatan yang bermutu dan murah dan bahkan gratis. Pengelolaannya dilimpahkan kepada institusi Negara sebagai pelayan masyarakat. Bukti historis telah menunjukkan bahwa Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya adalah Al-Bimarustan yang dibangun oleh Nudruddin di Damaskus tahun 1160, telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Jadi dalam sistem Islam pelayanan kesehatan gratis bukan sekedar jargon. Begitulah gambaran ketika kita memilih Islam sebagai solusi, tidak hanya akan mensejahterakan seluruh manusia (Muslim dan non Muslim), bahkan mampu mensejahterakan dunia.

Semua itu ada pada diri mahasiswa ataupun mahasiswi sendiri yang mendapat jargon agent of change sekaligus sebagai anak kos khususnya dan para orang tua sebagai masyarakat pada umumnya. Memilih diterapkannya Syari’at Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah, berarti menginginkan kehidupan yang lebih baik dunia dan akhirat, lebih dihormati dan disegani oleh Negara lain. Memilih tetap diterapkannya Kapitalisme-Sekulerrisme, berarti memilih tetap menjadi anak kos-kosan yang selalu dalam kekurangan, selalu dilecehkan oleh bangsa lain, tetap tertindas dan lain-lain. Pilihannya ada pada diri anda. Hal ini dikarenakan hidup adalah sebuah pilihan.
Sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam FirmanNya, yang artinya “Telah Kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)” (TQS. Al – Balad (90) : 10). Wallahu a’lam.

Senin, 14 Juni 2010

MENYIKAPI TINGGINYA STANDAR NILAI KELULUSAN

Ujian nasional (UN) baru saja selesai dilaksanakan oleh siswa maupun siswi tingkat SMA, SMK dan MA, baik itu sekolah negeri ataupun sekolah swasta yang ada di seluruh pelosok daerah di Indonesia termasuk juga perovinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Tentunya banyak usaha dan kiat-kiat yang telah dilakukan oleh pihak sekolah untuk mempertahankan dan bahkan untuk meningkatkan persentase kelulusan anak didiknya, agar jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Seperti mengadakan tambahan jam belajar (LES), membahas soal-soal ujian tahun sebelumnya, serta mengadakan try out yang umumnya dilakukan lebih dari satu kali. Selain itu, ada sebagian sekolah mengadakan sholat tahajud berjama’ah dan do’a bersama dengan para siswa dan siswinya. Memohon kepada Allah agar dibukakan dan dilapangkan hati dan fikiran, serta diberikan kemudahan dalam menjawab soal-soal ujian.
Orang tua siswa atau siswa pun tidak tinggal diam. Para orang tua juga melakukan kegiatan yang hampir sama dengan kegiatan yang dilakukan oleh pihak sekolah, seperti menyuruh anaknya untuk mengikuti belajar tambahan (Les prifat) diluar jam tambahan yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah, mengikuti try out seperti yang diselenggarakan oleh Primagama. Semua itu dilakukan oleh sebagian orang tua demi kelulusan anaknya.
Tingginya standar nilai kelulusan yang harus diperoleh setiap siswa maupun siswi untuk dapat dinyatakan lulus ujian nasional, mendorong semua pihak untuk melakukan berbagai usaha, meskipun harus melakukan kecurangan di dalam pelaksanaan ujian nasional ini. Meskipun tingkat pengawasan terhadap pelaksanaan ujian nasional semakin diperketat. Mulai dari pengamanan soal ujian dan ketika ujian berlangsung dengan melibatkan pihak kepolisian dan tim independen yang berasal dari bernagai elemen masyarakat serta perguruan tinggi. Namun kecurangan pun tetap terjadi.
Banyak isu yang telah kita dengarkan. Mulai dari isu adanya bocoran soal ujian, pengiriman kunci jawaban via SMS ke handphone siswa ataupun siswi, hingga isu penjualan soal-soal ujian dengan haraga mulai dari ratusan ribuan hingga jutaan rupiah. Seperti yang terjadi di SMA Swadaya Pangkalpinang yang mendapatkan kiriman kunci jawaban via SMS (Bangka Pos, 24 Maret 2010). Kunci jawaban yang dikirim via SMS itu bisa diperoleh siswa dari, seperti teman dekat yang berbeda tempat sekolah, guru yang mengajar mata pelajaran yang sedang diujikan ataupun oknum lain yang tega melakukan kecuranagn demi meningkatnya persentase kelulusan pada tahun ini.
Hal itu tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita. Semua itu wajar saja jika dilakukan, mengingat tingginya standar nilai kelulusan tahun ini. Misalnya di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Pangkalpinang (SMKN2 Pangkalpinang), nilai yang harus diperoleh setiap siswa ataupun siswi untuk tiga mata pelajaran adalah matematika 4,25, bahasa Indonesia 6, bahasa inggris 5,5.
Bagi daerah yang kualitas pendidikannya rendah, tentuanya tidak akan tinggal diam. Apapun yang terjadi, anak didiknya harus harus lulus dan meraih nilai yang memuaskan dalam ujian ini. Semua oknum pendidik sangat menginginkan anak didiknya untuk mencapai nilai tinggi ujian nasional ini karena dipacu oleh persepsi birokrasi, sekolah, orang tua dan masyarakat yang menganggap keberhasilan anak didik ditentukan oleh ujian nasional.
Memahami perilaku oknum pendidik yang tega melakukan praktik ketidak jujuran dalam pelaksanaan ujian nasional, hal itu dilatar belakangi ketimpangan kualitas pendidikan. Di belahan wilayah tertentu kualitas pendidikan memadai. Majunya pendidikan di wilayah tersebut karena didukung oleh sumber daya manusia dan sarana pendidikan yang baik.
Apakah dengan tingginya nilai standar kelulusan ini dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia ditingkat internasional? Jawabannya sudah jelas tidak. Sumber daya manusia (SDM) Indonesia memiliki peringkat 109 dari 174 negara (UNDP, 2000).
Upaya dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia, tidak seharusnya meningkat pula nilai standar kelulusan. Akan tetapi, upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah dengan cara memperbaiki serta melengkapi sarana pendidikan, meningkatkan kesejahteraan para guru baik itu guru yang sudah pegawai negeri sipil (PNS) ataupun sebagai guru bantu (guru honor) di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, yang lebih utama adalah meringankan biaya (SPP) di semua sekolah di Indonesia. Tidak memandang itu sekolah negeri maupun swasta. Serta pemerintah juga harus mempertimbangkan kondisi pendidikan yang berbeda di setiap daerah. Pemerintah tidak bisa menerapkan standar nilai kelulusan sama antara sekolah yang berada di desa-desa dengan sekolah yang berada dokota-kota, yang pada umumnya sekolah tersebut sudah maju.
Lengkapnya sarana prasarana pendidikan, kesejahteraan para guru dapat terjamin, dan biaya sekolah ringan, maka proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat berlangsung dengan tertib. Para siswa ataupun siswi dapat memperoleh pendidikan dan memperoleh informasi yang maksimal melalui sarana yang ada, serta tanpa harus mengorbankan waktu belajar mereka untuk mencari uang guna membiayai sekolahnya. Para guru akan menyampaikan pelajaran dengan tenang tanpa harus memikirkan usaha apa yang hendak dilakukan di luar jam mengajar untuk mencari penghasilan tambahan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Dengan demikian prestasi akan mudah dicapai dan Indonesia akan dengan mudah bersaing di dunia internasional.
Lihat saja Finlandia, Negara kecil dengan penduduknya yang berjumlah 5.246 juta jiwa pada tahun 2005 berhasil membawa semua siswanya berfikir cerdas dan dapat menjadi Negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia (Republika, Rabu 24 Maret 2010).
Seharusnya pemerintah tidak ikut-ikutan dengan Negara maju seperti Amerika Serikat dalam menetapkan standar nilai kelulusan, tanpa memikirkan keadaan bangsa ini dan tanpa memikirkan nasib para siswa ataupun siswi nanti. Banyak siswa ataupun siswi memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendiditkannya ke perguruan tinggi negeri, swasta (PTN atau PTS) ataupun akademi. Akan tetapi cita-cita harus tertunda akibat tidak lulus dalam ujian nasional ini. Hanya 11% siswa SMU yang melanjutkan ke PT (APTISI, 2000).
Bagi siswa ataupun siswi sekolah menengah kejuruan (SMK) yang sebelumnya bercita-cita untuk langsung bekerja di perusahaan jika lulus ujian, akan tetapi keinginan itupun harus tertunda karena mereka tidak lulus ujian meskipun pemerintah menjanjikan adanya ujian susulan (paket C) bagi mereka yang tidak lulus ujian yang ijazahnya setara dengan ijazah SMA. Semua itu akan sia-sia, karena sebagian perusahaan tidak menerima siswa tamatan SMA apalagi paket C, akan tetapi yang dibutuhkan sebagian perusahaan adalah mereka yang tamatan SMK dibuktikan dengan ijazah.
Kejadian-kejadian yang bakal terjadi sebagai dampak dari tingginya standar nilai kelulusan setelah pelaksanaan ujian nasional ini (setelah pengumuman kelulusan) jauh akan lebih seru, diantara kejadian-kejadian itu adalah:
1) Angka siswa putus sekolah akan semakin tinggi, akibat banyaknya siswa ataupun siswi yang tidak lulus dan mereka tidak mau mengulang dan tidak mau mengikuti ujian susulan (ujian paket C).
2) Angka pengangguran akan semakin meningkat
3) Kriminalitas akan semakin meningkat akibat tingginya angka pengangguran.
4) Angka siswa ataupun siswi dan bahkan orang tua yang prustasi (stres) akan semakin meningkat dari tahun sebelumnya.
5) Stabilitas dan keamanan provinsi dan bahkan Negara ini akan terganggu akibat aksi protes orang tua siswa atupun siswi dan bahkan aksi para siswa ataupun siswi yang tidak lulus ujian.
Bahkan untuk mengantisipasi banyaknya peserta ujian nasional yang kemungkinan mengalami stress akibat tidak lulus ujian, Kementrian Pendidikan Nasional berencana membuat posko untuk memberikan konseling. Posko tersebut diutamakan diluar pulau Jawa. Karena biasanya yang banyak tidak lulus terjadi di luar pulau Jawa (Republika, 25 Maret 2010).
Indonesia adalah Negara yang memiliki penduduk mayoritas beragama Islam terbesar di dunia. Rakyat Indonesia juga dipimpin oleh wakil rakyat yang mayoritas juga beragama Islam. Jika kita mau membuka kembali lembar sejarah dan mau belajar dari kejayaan Islam yang pernah terjadi dan berlangsung selama lebih kurang 13 abad lamanya dibawah naungan Khilafah Islamiah dan diatur dengan aturan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadist. Islam jaya disegala bidang, terutama di bidang pendidikan. Islam menjamin kesejahteraan tenaga pendidik (guru) dengan gaji yang besar, Islam juga membebaskan biaya pendidikan bagi para siswa ataupun siswi, baik itu beragama Islam ataupun non Islam.
Pertanyaannya, darimana semua itu diperoleh? Dana kesejahteraan para tenaga pendidik (guru), dan dana pembebasan biaya pendidikan (sekolah gratis) salah satunya diperoleh dari harta kekayaan alam yang seluruhnya dikelola oleh Negara dan hasilnya dikembalikan lagi kepada umat dalam bentuk biaya untuk pelaksanaan pendidikan. Indonesia akan lebih baik hanya dengan Syari’at dan Khilafah.

Senin, 31 Mei 2010

IDE KESETARAAN GENDER, BERTENTANGAN DENGAN KODRAT KAUM WANITA

Setiap tanggal 21 April, para kaum wanita disibukkan dengan berbagai aktifitas dalam rangka memperingati salah satu hari yang tentunya memiliki makna tersendiri bagi kaum wanita, yankni memperingati hari Kartini. Karena Raden Ajeng Kartini merupakan sosok pejuang wanita yang gigih dalam memperjuangkan dan mengangkat derajat kaum wanita guna menyetarakan kedudukan kaum wanita dengan kaum laki-laki.
Berbagai kegiatan pun dilakukan, seperti upacara-upacara baik di sekolah-sekolah negeri ataupun swasta, mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah atas (SMA/SMU/MA). Instansi pemerintah atau swasta pun tidak mau ketinggalan dalam memperingati momen ini. Serta berbagai kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berasal dari berbagai macam LSM ataupun organisasi masyarakat dan organisasi-organisasi politik, seperti mengadakan seminar-seminar, talkshow dan lain sebagainya dengan tema tentunya tentang perempuan dengan menghadirkan narasumber-narasumber yang berkompeten.
Ide kesetaraan gender dapat diartikan sebagai sebuah ide yang mengusahakan penyamaan kedudukan, hak-hak serta kebebasan kaum perempuan dengan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Seperti, dibolehkannya wanita menduduki kursi legislatif dan sebagainya. Karena adanya persamaan kedudukan, hak-hak serta kebebasan kaum perempuan dengan laki-laki ini, sehingga muncul anggapan bahwa kaum perempuan bebas dalam beraktifitas dan berkarir.
Ide-ide ini tentunya ditanamkan oleh Negara-negara kapitalis yang tujuannya untuk menghancurkan keluarga kaum muslimin dengan meminimalisir peran kaum wanita sebagai seorang ibu rumah tangga (IRT).
Hendaklah kita renungkan firman Allah SWT. berikut ini: Katakanlah, “hai kaum Ku, berbuatlah sepenuh kemampuan mu, sesungguhnya Aku pun berbuat. Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (diantara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan” (QS. Al-An’am [6]:135).
Akibat dari ide-ide yang merusak ini tentang adanya persamaan kedudukan, hak-hak serta kebebasan kaum perempuan dengan laki-laki di masyarakat yang ditanamkan oleh Negara-negara kapitalis, para kaum wanita lebih tertarik untuk beraktifitas di luar rumah. Seperti, bekerja di kantor pemerintahan ataupun di kantor swasta, menjadi sekretaris, penerima tamu, dan lain sebaginya. Bahkan kaum wanita merasa rendah diri jika sekedar berperan sebagai ibu rumah tangga (IRT). Sehingga lahirlah generasi tanpa bimbingan dan pengasuhan optimal seorang ibu (Al Islam Edisi 502/tahun XI).
Sudut Pandang Islam Tentang Ide Penyetaraan Gender
Dilihat dari kacamata Islam, ide penyetaraan gender ini gtentunya sangat bertentangan dengan dengan kodrat kaum wanita. Tidak adanya kewajiban bekerja (beraktifitas) di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan bagi kaum wanita atau merawat dirinya adalah semata-mata untuk menjaganya agar kaum wanita tidak masuk ke jurang kenistaan serta kehinaan. Ini mengingat, betapa banyaknya pekerjaan yang dilakukan wanita demi meningkatkan taraf kehidupan, namun ternyata meniscayakan penghinaan, pelecehan, dan penderitaan.
Seandainya kaum wanita dituntut bekerja (beraktifitas) di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ditambah lagi dia pun mesti menunaikan tugas-tugas alamiahnya. Seperti mengandung, melahirkan, menyusui, maka hal itu menjadi kewajiban yang di luar kemampuannya, serta merupakan ketidakadilan baginya. Tentunya aktivitasnya akan menyita waktunya dalam menjalankan tugas-tugas alamiah tersebut.
Sedihnya lagi, banyak kaum wanita justru senang dengan keadaan mereka yang harus mengombinasikan pekerjaan di luar rumah dengan tugas-tugas alamiah mereka. Bahkan wereka lupa akan peran mereka dalam kehidupan ini, yang memang sudah menjadi kodrat mereka sebagai seorang wanita sekaligus sebagai seorang ibu.
Selain itu, terangkatnya tanggung jawab bekerja di luar rumah dari wanita adalah untuk menjaganya dari godaan dan percampuran dengan laki-laki (ikhtilath). Segenap hikmah dari aturan-aturan Islam tersebut merupakan bagian dari keistimewaan yang Allah ciptakan untuk ciptaan-Nya.
Dari studi terhadap 2000 lembaga dan industri tampak jelas, bahwa daya tarik seksual (sex appeal) menjadi salah satu persyaratan mutlak yang terselubung untuk mendapatkan pekerjaan khususnya karyawati operator telepon, penerima tamu, sekretaris, dan tukang ketik. Sampai pada penerimaan pegawai Pemerintah Federal pun sudah menjadi ketetapan baku yang tidak diumumkan (dakwahkampus.com).
Lebih jauh lagi, setiap wanita yang bekerja di luar rumah, dalam banyak kesempatan menjadi penyebab terbatasnya kesempatan bekerja bagi kaum laki-laki yang bisa bekerja di posisi perempuan. Sementara laki-laki yang mengambil posisi seorang wanita di dalam rumah tangga tidak akan bisa menggantikannya dalam melakukan berbagai tugas domestik.
Sehingga muncullah pertanyaan bagi kita dari penjelasan-penjelasan di atas, ”Kenapa semua itu bisa terjadi?” Semua itu terjadi dikarenakan manusia jauh dari Allah sehingga menjalani kehidupan yang nestapa. Allah telah memeringatkan siapa saja yang menjauhkan diri dari-Nya. Dia berfirman, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah dia, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan” (QS. Thaha 124-126).
Tentunya kita sudah mengetahui bahwa, fungsi atau peran utama kaum wanita adalah sebagai seorang ibu dan manajer dalam rumah tangga. Bukan hanya itu saja, seorang perempuan (ibu) adalah benteng dari suami dan anak-anaknya. Peran ibu sangatlah besar dalam keluarga, seperti menjaga serta mendidik anak-anaknya, tentunya dengan pendidikan yang islami. Sehingga dapat melahirkan generasi muda yang akan mengguncangkan sekaligus meruntuhkan dominasi kafir barat dengan peradaban sampahnya.
Tentu betapa nikmatnya menjadi seorang muslimah, tidak perlu bekerja, namun tetap diberi hak kepemilikan harta. Ya, Allah mengangkat dari wanita kewajiban bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya atau untuk mendukung kemampuan finansial diri dan keluarganya. Allah menetapkan bahwa kewajiban tersebut adalah mutlak milik kaum laki-laki. Dia menginstruksikan laki-laki agar bertanggungjawab memelihara dan mengasuh perempuan di setiap fase kehidupan mereka.

SETELAH LULUS, AKAN KEMANAKAH SAYA SELANJUTNYA?

Setelah menerima hasil pengumuman kelulusan, tentunya banyak siswa atupun siswi yang berasal dari berbagai sekolah, seperi sekolah Menengah Atas atau Umum (SMA/SMU), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ataupun Madrasah Aliyah (MA) masih penuh dengan kebingungan dan kebimbangan. Baik sekolah negeri ataupun sekolah swasta yang ada di berbagai daerah di Indonesia ini tidak terkecuali di Kepulauan Bangka Belitung, tentunya masih banyak siswa atupunsiswi yang bingung. Bahkan tidak sedikit siswa atupun siswi yang masih belum memiliki gambaran sama sekali harus kemana mereka setelah menerima hasil kelulusan (ijazah). Mau langsung bekerja di perusahaan-perusahaan dalam daerah ataupun perusahaan-perusahaan luar daerah, langsung menikah atau mau melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi (bangku kuliah).
Bagi siswa ataupun siswi yang sudah memiliki pilihan untuk langsung bekerja dari sejak awal dia masuk sekolah Menengah Atas atau Umum (SMA/SMU), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ataupun Madrasah Aliyah (MA), tentunya langsung memasukkan lamaran pekerjaan ke perusahaan-perusahaan yang akan dituju. Bagi siswa ataupun siswi yang sudah memiliki pilihan untuk langsung menikah setelah lulus dan sudah memiliki calonnya, tentunya pilihan ini akan lebih mudah untuk dilaksanakan.
Hal ini tentunya bertolak belakang bagi siswa ataupu siswi yang belum memiliki tujuan dan cita-cita sejak awal. Jika para siswa ataupu siswi ini mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tentunya muncul pertanyaan yang lebih besar lagi dengan beragam pilihan yang muncul dari dalam benak mereka. Mau ke perguruan tinggi yang ada di Kepulauan Bangka Belitung ataukah mau ke perguruan tinggi yang ada di luar Kepulauan Bangka Belitung?
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki lebih dari puluhan perguruan tinggi, mulai dari universitas, sekolah tinggi dan bahkan akademi. Tentunya semakin membuat bingung para siswa ini harus memilih untuk melanjutkan pendidikan mereka kemana. Para siswa ini bingung dan bertanya-tanya, akan kemana saya harus kuliah? Para orang tua mereka pun juga tidak kalah bingungnya, pasti banyak bertanya-tanya dan pilihan-pilihan akan kemana mereka harus melanjutkan anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi lagi?
Guna memahami apa tujuan kita sebenarnya melanjutkan pendidkan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini tentu sama dengan pertanyaan yang sangat mendasar yang pasti muncul dari benak setiap seorang berakal yang sedang bertanya-tanya dalam pencarian jati dirinya. Sebagai contoh, Si Pulan bertanya pada dirinya sendiri, dari mana saya berasal (diciptakan)? Untuk apa saya diciptakan (hidup)? dan akan kemana saya setelah hidup (mati)?
Jawaban dari ketiga pertanyaan ini dapat kita jawabab dengan menggunakan tiga sudut pandang (Idiologi), yaitu idiologi Sosialisme, idiologi Kapitalisme dan idiologi Islam. Pertama, sudut pandang idiologi Sosialism. Karena azas idiologi ini adalah materi. Idiologi Sosialis ini pun menjawabnya, saya ada di dunia ini dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan atau berasal dari sebuah materi yang berevolusi (teori Darwin). Karena saya di dunia ini tanpa ada yang menciptakan saya, sudah pasti saya tidak mengenal yang namanya Sang Pencipta (Allah SWT) dan aturan-aturannya. Sehingga, dalam hidup saya tidak mengenal adanya aturan-aturan Tuhan yang mengatur seluruh aktivitas hidup saya (tidak mengenal adanya hisab). Karena tidak adanya aturan-aturan yang mengatur seluruh hidup saya (tidak mengenal adanya hisap), sudah tentu setelah hidup (setelah mati), saya akan kembali lagi menjadi materi lagi dan perkara saya akan selesai di dunia ini saja.
Kedua, dari sudut pandang idiologi Kapitalism. Azas dari idiologi Kapitalis ini adalah pemisahan agama dari kehidupan (percaya bahwa adanya Sang pencipta), idiologi inipun menjawab. Orang-orang yang mengadopsi idiologi ini menyatakan, saya ada di dunia ini karena ada yang menciptakan saya (Sang Khalik). Karena azas dari idiologi ini adalah pemisahan agama dari kehidupan, sudah tentu dalam seluruh aktivitas hidup mereka tidak menginginkan adanya aturan-aturan yang berasal dari agama untuk berperan dalam mengatur hidup mereka. Mereka beranggapan bahwa, aturan yang bersumber dari agama (aturan Tuhan) cukup mengatur aktivitas pribadi mereka dengan Tuhannya. Ini artinya, untuk mengatur hidup mereka, mereka harus membuat aturan (hukum sendiri). Hukum-hukum ini disebut dengan undang-undang. Karena tidak adanya aturan-aturan agama (Tuhan) dalam hidup mereka. Tentunya setelah hidup (setelah mati), mereka tidak percaya dengan adanya hisab (hari perhitungan). Serta tidak percaya adanya siksaan terhadap seluruh aktivitas dosa yang mereka perbuat dan balasan pahala terhadap aktivitas baik selama hidup mereka perbuat. Artinya, setelah mati maka selesai lah sudah seluruh perkara yang mereka perbuat di dunia.
Ketiga, berdasarkan sudut pandang Idiologi Islam. Azas idiologi ini adalah Islam, Orang-orang yang mengadopsi idiologi Islam ini pun menjawab, di dunia ini saya berasal dari Allah (Sang pencipta). Saya pun meyakini bahwa setelah Allah (Sang pencipta) menciptakan saya, Allah juga menciptakan aturan-aturan atau hukum-hukum (Al – Qur’an) untuk mengatur seluruh aktivitas selama hidup saya. Karena percaya dengan adanya Sang pencipta dan adanya aturan-aturan yang mengatur hidup mereka, orang-orang yang mengadopsi idiologi Islam ini pun sudah tentu meyakini bahwa setelah hidup (setelah mati), mereka sudah tentu percaya dengan adanya hisap (hari perhitungan). Siksaan terhadap aktivitas dosa yang mereka perbuat dan pahala terhadap aktivitas baik yang mereka perbuat.
Nah, dari ketiga penjelasan di atas tentunya para siswa khususnya dan para orang tua pada umumnya sudah mengetahui untuk apa mereka ada di dunia ini dan apa tujuan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga, dalam memilih dan memasukkan perguruan tinggi ini tidak penuh kebimbangan.
Pada dasarnya tujuan dari didirikannya seluruh perguruan tinggi itu sama, baik yang ada di Kepulauan Bangka Belitung ataupun yang berada di luar Kepulauan Bangka Belitung ini dan bahkan yang berada di luar negeri sekalipun. Tujuannya adalah untuk mencetak atau melahirkan generasi muda yang intelektualitas tinggi serta memiliki keunggulan masing-masing sesuai dengan bidang yang mereka pilih. Namun, yang menentukan keberhasilan sebuah perguruan tinggi dalam mencetak atau melahirkan generasi muda yang intelek, bukan hanya ditentukan oleh mutu ataupun peringgkat dari sebuah perguruan tinggi saja. Perguruan tinggi disini berfungsi sebagai mediator dan para dosen hanya berfungsi sebagai fasilitator saja. Akan tetapi yang lebih menentukan adalah bagaimana kemauan dan tekad kuat yang muncul dari dalam diri seorang mahasiswa untuk melakukan sebuah perubahan.
Hal ini dikarenakan hidup adalah sebuah pilihan. Sebagaimana yang dijelaskan Allah dala FirmanNya, yang artinya “Telah kami tunjukkan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk)” (TQS. Al – Balad (90) : 10).
Tentunya tidak sedikit prestasi gemilang yang dapat mengharumkan nama dirinya sendiri, keluarganya dan bahkan bangsa ini yang diraih oleh mahsiswa ataupun mahasiswi yang hanya kuliah di daerah dan bahkan berasal dari perguruan tinggi yang tidak ternama sekalipun. Sebaliknya, tidak sedikit pula kegagalan yang diperoleh oleh mahsiswa ataupun mahasiswi yang kuliah di kota-kota besar dan berasal dari perguruan tinnggi yang ternama. Baik yang berasal dari perguruan tinggi ternama yang ada di dalam negeri ini atupun yang bersal dari perguruan tinggi ternama yang ada di luar negeri pun.